Tuesday, October 13, 2009

Pantun Melayu Baru Berselimut Iman

Seri selasih kuntum berputik,
Seri kenanga salam senandung,
Muttaqin sejati agama dijunjung,
Hamba beriman lawannya munafik,


Indah cempaka wangi mengharum,
Semerbak kasturi di laman nurani,
Amal dikejar matinya belum,
Itulah dia mukmin sejati,


Tiang seri kukuh berdiri,
Usianya lanjut jasanya besar,
Mengaji ilmu jangan diketepi,
Barulah hidup tidak tersasar,


Tasik Asmara airnya tenang,
Bukit Setanggi puncaknya menawan,
Syariat Tuhan erat dipegang,
Supaya diri terlindung syaitan,


Istana Bunian warnanya berseri,
Balai Kota gah bernaung,
Halal dan haram dijaga mesti,
Agar akhirat tidak tersadung,


Negeri Makasar jauh di seberang,
Bumi Jawa tanahnya subur,
Insan mulia imannya disayang,
Manusia hina akhiratnya kabur,


Pucuk paku anak sembilang,
Daun semalu tumbuh meliar,
Insan beriman wajahnya cemerlang,
Hamba munafik rupanya bubar,


Pergi India singgah di Benggala,
Bulan Sya'ban musim berbunga,
Hati yang hidup tiada nestapa,
Jiwa yang kotor resah-merana,


Keretapi rodanya banyak,
Kereta lembu rodanya dua,
Insan beriman hatinya lunak,
Insan derhaka jiwanya terluka,


Pohon dedalu pucuknya hijau,
Anak serati jinak di kaki,
Nafsu jahat mesti dihalau,
Agar iman sejati hakiki,


Angin Kemboja bertiup setia,
Awan timur berlalu sopan,
Marah itu sifat tercela,
Jika diikutkan serupalah syaitan,


Jalan ke Riau sesak berperang,
Ramai yang mati bergelimpangan,
Ayah dan bonda dilawan jangan,
Kelak di neraka sesal tak sudahan,


Sepatu kulit buatan Bandung,
Songkok hitam buatan Nepal,
Umpat mengata mesti dibendung,
Agar di akhirat tidak menyesal,


Anak haruan bermain rumpai,
Anak sembilang sengatnya berbisa,
Hati kawan jangan dilukai,
Agar orang sentiasa suka,


Kelibat lanun di Selat Melaka,
Taufan bertiup gegak bergoyang,
Orang suka tiadalah apa,
Allah suka itulah cita-cita,


Seri senandung bunga melati,
Tumbuh segar di bibir kali,
Hati jangan mudah dicemari,
Makan sesuap mestilah diselidiki,


Sutera Cina hadiah diberi,
Selendang Parsi penyeri diri,
Hidup dunia sebagai uji,
Akhirat selamanya sedang menanti,


Taman Anggerik laman bahagia,
Lama dibina berabad usianya,
Aqidah dijaga setiap masa,
Yakin sepenuh pada Yang Esa,


Mentari menyinar sejengkal cuma,
Sinarnya halus membakar keringat,
Yakin padaNya mestilah sentiasa,
Agar selamat dari terlaknat,


Pulang ke Jawa bersama Tok Guru,
Lalu sebentar di negeri Cina,
Yakin dibina pada Yang Satu,
Barulah aman dari bencana,


Mengayuh sampan berteman adinda,
Mudik ke hilir di siang hari,
Jiwa dan raga akan bahagia,
Jika hak Tuhan dijaga rapi,


Pantun berpantun adat Melayu,
Ayatnya manis maknanya indah,
Amal yang baik diseru selalu,
Barulah akhirat menjadi mudah,


Bertikam keris dengan Hang Jebat,
Keris dihunus pedang dicampak,
Bercakap banyak mestilah penat,
Kurang bercakap sifat ulamak,

Sunday, October 11, 2009

Perempuan-Jasad Yang Bernafsu Ikut "MoOd"



Lantas mau terkam terus. Perempuan itu katanya punyai nafsu sembilan sejumlah bilangan. Aduh. Pantas sebegini ganas!. Dikatakan lagi bahwa perempuan itu “mood” atau “temperature” mereka tidak mungkin stabil terus. Ada tika “mood “ mereka agak bahaya lantas tidak bisa ditegur-usik-cuit. Apa perempuan itu tidak punya rasa ‘rileks’ atau ‘cool’. Susah, andai begini sifatnya perempuan itu. Bisa saja ringan tangannya mahu lempang orang. Bisa saja ringan lidahnya mau caci-hina orang. Ini mungkin cocok bagi yang kaki jalanan-yang tidak ngerti apa itu akhlak atau tata cara perilaku manusiawi.

Tapi, tertanya-tanya sama ada perempuan itu kenapa mudah saja mau respon lantang tanpa tidak punya waktu untuk berfikir dulu. Berfikir dulu sebelum terjah terus. Berfikir dulu sebelum mau terkam terus. Ya, inikan bulan Ramadhan yang Indah (ditulis semasa bulan puasa). Apakah nafsu yang sembilan jumlahnya (kata orang) itu tidak bisa diberkas lagi?, tidak bisa dijinakkan lagi? Ini hal yang cerewet sifatnya-mau punya jawaban yang tepat sebelum dijawab. Kata cikgu, perempuan itu lemah gemalai gaya lakunya. Indah suci tutur katanya dan sopan benar gerak-gerinya. Aduh-sempurna sekali produk Hawa ini:kata hati.

Tapi, itu kata cikgu. Cikgu pun sudah lama mati. Dan itu kata-kata yang terbitnya waktu dulu. Dan hari ini kalendar waktunya sudah jauh baru.Bukan lagi hal-hal dulu-dulu yang menjadi isu. Perempuan!. Ya, orang kata: perempuan itu pemalu, penyantun lagi baik peri lakunya. Mungkin sekali sifat-sifat sempurna ini bisa bantui perempuan jadi perempuan yang sabar-perempuan yang fikirin dulu sebelum terkam terus,sebelum terjah terus. Ah, tapi cikgu tidak bilang bahwa perempuan itu ganas-rakus dan punyai nafsu sembilan jumlahnya. Tapi, cikgu hidup waktu dulu. Perempuan yang versi baru ini hidup di era terkini. Nyata berbeza barangkali. Berbeza maksudnya tingkah tanduk perempuan-perempuan yakni di zaman dulu (zaman cikgu) dengan zaman ini (hari ini).

Ramadhan yang Indah.Ya, bulan yang nafsu penghuni taman Ramadhan ini sudah bisa diikat-tambat sampai ketat.(Pastinya bukan semua). Jadi, disini sudah punyai dua faktor besar agaknya. Pertama-Ramadhan yang Indah bisa tundukkan nafsu yang sembilan.Kedua-perempuan-perempuan itu gayanya sudah pasti lemah-lembut, penyopan, penyantun,penyayang (mungkinkah?). Kelihatan dua-dua faktor besar ini bisa saja mampu bantui perempuan agar lebih ‘cool’ atau ‘rileks’ terus sampai ajalnya.
Nah!. Malangnya, perempuan itu tetap sama saja cara dan gayanya. Adakah ini berpunca daripada virus bawaan bebabi itu? Oh!, mungkin tidak. Jadi, harus kenapa perempuan-perempuan itu terus ganas-gelojoh dan rakus peri bahasanya.Tuhan saja yang Tahu. Tuhan saja yang Tahu-cikgu tidak tahu. Ini pasti sekali.

Adakah ini mungkin gejala bawaan genetik dari darah-keturunan nenek moyang mereka? Jauh sekali rasanya. Maka, apa punca yang cetuskan sindrom tidak mau ‘cool’ & ‘rileks’ ini?
Tuhan sudah pasti punyai jawabannya. Cikgu dan aku pasti tak ketahuan. Oh! Perempuan-perempuan yang punyai gelaran penyopan, penyantun, penyayang (betulkah?) seringkali dilihat elok saja. Ya!, Ramadhan ini ibarat ‘washing machine’ yang ghaib sifatnya. Ya, kerna hati-hati bisa dibasuh terus sampai cuci di bulan Rahmat ini-(kata ustaz) Nafsu jahat mungkin senang untuk dipijak.Mungkin! Namun, malang agaknya kerna perempuan-perempuan itu masih juga bernafsu ganas dan pantas.(Dua belas juta persoalan) Entah, cikgu bilang perempuan itu elok rupanya, lembut gemalai gerak lakunya dan sopan suci tuturnya. Aduh! Mana bisa cikgu berbohong. Itukan cikgu. Nah! Masalah ini makin membesar ketumbuhannya.

Tapi, bukankah sudah terbiasa melihat perempuan-perempuan kasar perilakunya. Ah,biarkan soalan ini tidak berjawab kerna sukar rasanya mau dicari jawabannya. Mungkin saja perempuan sendiri yang menjawabnya. Mungkinkah terjawab? Hanya Tuhan yang ketahuan………………

A/A/S: Lantak kau lah perempuan. Kubur masing-masing.

Apa Beza Orang Dengan Binatang: Dari Perspektif Perempuan.


Ini isu lama dah sebenarnya. Dah nak muntah pun kalau baca. Lama sangat dah sampai orang tak lalu nak layan. Tak tulis hati merana, lebih baik tulis nescaya jiwa-raga pun lega. Perempuan tak habis-habis buat hal. Mak bapak suruh pakai baju tutup badan elok-elok ala-ala manusia gitu, tapi nak juga jadi macam lembu kambing kucing dan baa..! Ini masalah lama lah. Dunia sudah moden, orang dah bosan 'bungkus-bungkus' ni. Apa barang nak 'bungkus-bungkus' lagi. Kan elok dedah begitu sahaja. Peduli apa orang sekeliling mau cakap. Kalau orang hina kami, mereka dapat dosa. Kami dianiaya, tak gitu? Cewwahh!.Kami selalu dicemuh sebab kami ingin berubah jadi manusia moden. Itupun salah ke?

Kami orang perempuan pun ada perasaan. Ingin bebas-lepas di udara bagai burung helang. Jadi, soal aurat-aurat ini kami tak ada masa nak layan. Boleh mengerti tak orang-orang diluar sana? Kami nak buka pusat-tunjuk di sekitar kampung pun salah ke?.Macam mana dengan hak kebebasan kami?. Kami pun ada hak sebagai manusia. Kami mahu tunjuk buah dada di khalayak umum siapa nak kisah?. Sudah takdir kami suka benda-benda macam ini kan? Apa kami boleh buat?.

Orang kafir cipta seluar Jeans penat-penat kenalah kami hargai. Kami rasa teruja nak sarung seluar Jeans.Kalau diizinkan Allah biarlah kami dapat seluar Jeans yang ketat-sendat & melekat gitu.Baju-baju kurung ini rimaslah, dah lah corak berbunga-bunga kan. Ingat kami ni mat Bunga ke? Kalau pekena seluar Jeans ketat, baju nampak pusat lepas tu, pakai tudung ala-ala tak siap memang stailo-waralo lah. Baru "matching" dengan arus pemodenan dunia maya tanpa sempadan.Chewwahh!

Tapi, kami suka sangat bila ada muslimin beriman yang jeling-jeling ala-ala Zoro gitu di punggung,dada dan leher kami. Inilah objektif dasar kami sebenarnya. Jika ada orang yang terganggu konsentrasinya akibat daripada tertengok "aksesori" kami ini, wah! kami bangga tau. Syukur.Banggalah amat sangat sebab "aksesori" kami ini ada nilai la kan. Tak gitu?,tapi, ini sebenarnya sampingan sahaja. Kami ada tujuan yang penting lagi dari itu.

Kami ini sebenarnya kaum yang lemah dan sopan santun selalu yang jadi mangsa lelaki jalang. Tak kesian kah pada kami? Tapi, kami tak heran pun sebenarnya sebab geng-geng kami sekarang sudah ramai. Bersepah sepah sampai melimpah mujur tak tumpah.Ewah! Ya, kami memang ramai sekarang. Lihat saja di jalanan, di longkangan,di peparitan,di tetaman bungaan,di deretan kedaian dan semua lokasi lah. Siapa yang ramai? Kami atau kaum jantan yang bagai dugong kepupusan?. Mestila kami,kaum betina! Opss!.Perempuan.

Inilah gejala yang kronik sebenarnya. Kami sebagai perempuan ramai sangat. Jadi, tak heranlah ada yang kami tugaskan untuk menjadi bohsia, minah rempit, gro, pela*ur dan bagai lagi. Ini semua untuk siapa? Mestilah untuk lelaki-lelaki kan. Ingat senang ke nak berkorban diri, harta & masa untuk orang lain? Tapi, kami sebagai perempuan rela lakukan jua. Sebab kami ni kental jiwanya. Jangan lupa dengan kata-kata "tangan yang menghayun buaian mampu mengoncang dunia". Ayat itu milik kamilah, kaum perempuan.

Bangga sungguh kami rasanya jadi perempuan.Tapi kami khuatir juga kiranya 'tangan yang sama lah yang akan mengoncang pintu neraka.Oh..! tidak mungkin. tapi, tak mustahil. Cuba pergi universiti di seluruh dunia dan tengok siapa yang majoriti?. Cuba pergi hospital siapa yang majoriti? Cuba pergi sekolah rendah siapa yang majoriti? Cuba pergi ke pasaraya,siapa yang majoriti? Cuba pergi ke pusat serenti, siapa yang minoriti? Jawapannya,tentulah kami. Riak sungguh rasanya. Hebat betul perempuan.!!

Tetapi, kami ada dengar yang Nabi s.a.w bagitahu yang majoriti di neraka @ hellfire pon kami juga.Aduhh! mana mungkin begini. Tapi itu Nabi s.a.w yang ujarkan. Pasti tepat sekali. Bahayakah kedudukan kami? Mungkin tidak, kami memang sempurna dan beriman.Walaupun kami dedah pusat-buah dada di khalayak ramai tapi kami ada iman.Iman kami ada dalam hati tau. Orang mana nampak. Kami buka tudung tak bermakna kami jahat. Itu tandanya kami ikhlas dalam ber'amal.Kami tak suka hipokrit-hipokrit ni. Kami terus terang je.

A/A/S: Binatang tak punya aurat-manusia ada aurat= dedah aurat jadi binatang.

Friday, October 9, 2009

Ada Cerita Aib Di Masjid-Angkara Siapa?

Lepas detik subuh kadar suasana alam tenang. Di masjid ada suara lantang berdengung-dengang. Berceramahkah?. Berkhutbahkah?. Entah. Tapi suara itu penuh lunak dan rasa yaqin yang kuat. Begitu petah berbicara. Hati tergerak mau tatap sang pemilik suara lantang. Kaki yang dipinjamkan perlahan-lahan diatur menghala ke tangga masjid.Angin, pokok-pokok dan tasik memerhati diri. Jalan sunyi dan lengang.

Suara lantang tadi makin deras dilontar. Hati rasa tak sabar lagi. Siapa gerangan? Butir-butir kandungan yang dilontar si suara lantang ada singgah di telinga. Hampa, isinya kabur. Tidak jelas. Kaki yang dipinjamkan akhirnya hinggap di halaman masjid. Langkah disusun meluru ke hadapan sang suara lantang. Utazkah?:hati menyoal. Punggung diletak sopan. Barulah jelas didengar isi-isi butiran kata si suara lantang. Sudah agak tua rupanya sang permbicara itu. Berserban mungkin dan berjanggut itu pasti. Ya, itu janggut. Sungguh yaqin terlihat gayanya. Banyak isu disentuh.

Hati terus fokus mau dengar nasihat.
Tiba-tiba.....

"Kita ni bukan buat ibadat, tapi adat ja semua,Doa pun adat ja, sujud-solat pun adat ja...ramai antara kita ni duk macam tu la..adat ja.." (Sang pembicara:2009)

Tiba-tiba...Telinga menerima gelombang yang sukar ditafsir oleh hati. Apakah sang pembicara itu Ustaz? Lidah kelu-hati menyoal bertalu. Wah!. Ini gaya menghentam rasanya.Diri sabar mendengar kata-kata yang makin laju dilontar. Jemaah lain pun sama.Hormat pada sang pembicara. Ya, kerna diri mau kan nasihat. Itu niat bertandang ke masjid.

"Nu, tengok di Palestin, Checnya, Pattani, apa jadi?Imam dok doa juga lepas solat. Tapi duk kena bunuh juga.Ni la punca. Doa pun macam-macam gaya.Ada yang boh tangan di hidung.Ada yang boh tangan di dagu, Ada yang boh tangan di saku..Saya tak boleh la kata ini sebabnya.Tapi macam tu la..kita ni duk tak reti macam tu la...."(Ibid:2009)

Ragu-keliru dan haru. Itu Ustazkah? Ya,pastinya sang pembicara berniat murni. Memang bagus gayanya. Tapi.Rasa ragu dan mual mula membelit diri. Terasa punggung mau diangkat pergi. Diri menyangka ada nasihat berbaur agama. Rupanya kecewa yang disapa. Ustazkah itu?. Kenapa begitu gayanya. Allah saja yang tahu.

Ya. Apa motif para jemaah umum disindir sedemikian. Sang pembicara ada niat yang besar pastinya. Ya, niat mau lihat para jemaah dan umat sempurna dalam ibadat. Tapi, rasional atau tidak? Sudah datang ke masjid mau dimalukan juga. Si suara lantang tegar dengan bicara gaya menegurnya. Tapi, diri melihat dari skop lain. Perlukah tiap-tiap hari para jemaah disindir-dimalukan? Apa natijahnya yang mungkin timbul.

Lagi sekali:Allah saja yang tahu. Mungkin saja, ada hati yang merajuk membawa diri.Pergi ke masjid lain atau saja terus tidur tanpa perlu ingat masjid lagi. Mungkin saja. Apakah termaktub dalam Enakmen Jenayah Syariah 1995 perbuatan menegur dengan cara yang sopan jadi satu kesalahan? Apakah reaksi si Ah Chong dan Siva jikalau mereka terdengar bait-bait sindiran dari dalam masjid. Ya, apakah reaksi mereka? Mungkinkah begini:?

"Ayya!, itu olang banyak bising oo.malah-malah selalu": Ah Chong
"Amma,Appa!, itu orang tak da lain kerja ka, marah saja tau": Siva

Bersambung semula.Ustazkah itu?. Ya, berjanggut elok sekali. Berserban apatah lagi-molek berkali-kali. Hampa. Kerana sang pembicara guna teknik hentam kromo ala-ala pendebat. Ya, apakah salah jika si suara lantang menegur dengan gaya yang mulus?Diri fikir mungkin itu lebih baik. Ya, sangat baik maksudnya. Yang sudah datang ke masjid masih lagi ditikam + dihentam. Apa si suara lantang tidak faham bahawa sukar sekali anak-anak Adam di era ini mau menjenguk masjid. Alangkah bagus kiranya, sang pembicara memberikan nasihat berorientasikan SUNNAH BAGINDA S.A.W. Hampa lagi.

Tiada satu pun kata-isi bicara si suara lantang yang seronok didengar. Jarum terus bergerak.Tik..tak..tik..tak(kononnya). Tiba-tiba...."Saya fikir masa pun dah cukup.Saya mintak maaflahkalau ada yang terasa, kalau ada yang terkasar...Apa yang baik itu datang dari Allah..yang buruk tudari saya sendiri.....(Ibid:2009)

Ya, Sang pembicara menamatkan majlis. Seolah-olah angin, dinding dan jemaah tersenyum lega. Ya, lega kerana hentaman dan tikaman lidah sudah lenyap. Hati kembali rileks. Tiada lagi soalan: Ustazkah itu?. Tragedi selepas subuh itu dibiarkan berlalu pergi.Sang pembicara pun menuju pergi. Masing-masing membawa diri.

A/A/S: Ikut Suka Kau Lah Ustaz!

Ada Apa Dengan Malaysia?:"Cis!"



Tajuk-tajuk akhbar mutakhir ini!

"Remaja mati ditetak
Kepala koyak
Enam ditahan positif dadah
Bahana cuba pil khayal
10 minit bergelut peragut
Wanita kena penjara 7 tahun
Muka pecah kena lempang
Kemaluan terkoyak
Anak dara dirogol, cabul
Ibu mati dijerut anak
Bapa "makan" anak sendiri
Adun rasuah 3.juta
Ustaz liwat murid
Gadis mati tanpa kepala"


Negaraku,
Tanah tumpahnya darahku,
Rakyat hidup,
Bersatu dan maju,
Rahmat bahagia,
Tuhan kurniakan,
Raja kita selamat bertahkta,

Apa yang berlakunya sebenarnya?. Negara Islam. Negara membangun. Slogan cemerlang,gemilang,terbilang siap dilaung. Bendera negara pun sudah ada. Tugu negara sudah lama dibina. Pemimpin pun ramai dah yang mati. Islam Hadhari. 1Malaysia kini dirai. PM baru pun sudah dilantik. Pendapatan hasil negara memang lumayan. Rakyat hidup macam binatang. Mungkin binatang lagi aman hidup dari manusia.Mungkin dan memang begitu fikirnya.

Ya.Negara maju.Bangunan tinggi-tinggi.Jambatan panjang-panjang.Jalanraya berlapis-lapis+bertingkat-tingkat. Masjid berbillion-billion. Pusat pentadbiran negara berjuta-juta. Apa yang tak kena? Tengok balik lirik lagu Negaraku. Ada tak gambaran situasi sekarang atau hari ini dalam lirik lagu itu?Rasanya kalau pencipta lirik lagu Negaraku itu masih hidup hari ini mesti dia terkejut. Dan aku pun malu nak nyanyi lagu Negaraku itu. Semua fakta dalam itu salah. Paradoks habis dengan keadaan hidup hari ini.

Ya, keadaan hidup yang benar-benar genting. Ibarat "injury time" atau menunggu 'bom masa" yang nak meletop saja. Gila! Apa makna tamadun jika dirujuk dengan keadaan manusia-manusia hari ini. Layak kah kata "tamadun" itu dikaitkan dengan tatacara kehidupan rakyat Malaysia hari ini. Aku kata MUSTAHIL!.Manusia zaman ini di negara ini sudah hilang tamadun. Hilang semua.

Dalam lagu kebangsaan itu sungguh manis dan sopan makna yang diujarkan. Bila dengar rasa bersyukur dapat hidup di bumi Malaysia ini.Bersyukur?. Apa yang nak disyukurkan?. Hari ini, tiada apa yang nak disyukurkan. Mungkin ada. Ya, sebelum terlupa. Bersyukur sebab Malaysia tiada gempa bumi. Bersyukur sebab Malaysia tiada gunung berapi aktif. Bersyukur sebab Malaysia tiada taufan. Bersyukur sebab Malaysia tiada banjir lumpur. Bersyukur sebab Malaysia tiada kebakaran hutan.Namun, kecelakaan akhlak dan gejala jahat yang diperhebatkan.Hampa.

Tapi!, Tak mustahil esok lusa semua itu akan singgah di Malaysia. Siapa tahu-Allah tahu. Ya, cuba tengok semula statistik buang bayi di Malaysia, menurun ke meningkat? Cuba tengok peratus rogol-bunuh-bakar makin menaik atau berkurang? tengok lagi kadar rasuah-songlap-rompak duit rakyat, makin sikit atau makin banyak?

Selidik semula prestasi zina-minum arak-sumbang mahram hari ini,makin banyak atau makin kurang?Kaji lagi pencapaian bangunan-pejabat dan rumah runtuh, makin berleluasa atau makin lenyap? Tengok lagi aksi ragut-tendang-seret di jalanraya, makin menjadi-jadi atau sudah senyap?. "Inilah citra Malaysia tercinta. Negara yang kupuja kerana dikau aku bergelar rakyat". Ya, rakyat yang menunggu masa untuk diragut dijalanraya.

Ya, rakyat yang menanti saat dirompak dan diliwat. Ya, rakyat yang membilang hari untuk dibunuh dan diculik. Ya, rakyat yang sedang menuggu giliran untuk dirasuah dan dijerat."Malaysiaku bumi bertuah. Negara Islam tercinta. Oh Malaysiaku, kau negara Islam.Islam yang engkau naungi".Tapi mengapa, rakyat menanti celaka dan malapetaka. Ya, hari-hari berita muka depan akhbar menyediakan tajuk-tajuk panas yang sudah jelek hendak ditatap.

Asyik-asyik "rogol-bunuh-liwat-cabul-rasuah-culik-bakar-jerut leher-rompak-ragut-curi-songlap-sepakterajang-gay-pondan-lesbian-haruan makan anak & bagai lagi". Inilah nikmat menjadi penghuni bumi Malaysia. Bersyukur. Keadaan cukup genting. Mana-mana pun tidak selamat. Setiap masa perlu berwaspada. Inilah nikmat keamanan yang dilaungkan olen pemimpin haprak Malaysia.Keamanan, ketenangan dan segala macam "ke" adalah milik mutlak ALLAh s.w.t.

"Oh negara Islam-Malaysiaku sayang".
"Kini dikau diulit bencana"
"Bencana akhlak rosak yang bermaharajalela".
"Rakyat hidup sengsara".
"Dan ramai yang sudah gila"
"Oh.Malaysiaku sayang."
"Pemerintah gila kuasa dan"
"Rakyat menderita-gilanya"
"Malaysiaku tercinta"
"Duhai pemimpin durjana"
(Warning:Jangan nyanyikan sewaktu perhimpunan di sekolah)

Ya.sayu melihat telatah manusia-manusia hilang pedoman. Tiada beza dengan binatang. Ya,sama dan serupa bahkan lagi hina:[Kata Al-Quran]Ya, apa boleh buat. di kampung pun sama sahaja. Anak luar nikah bersepah-sepah. Ramai sudah yang hilang dara-teruna. Bayi dibuang dalam longkang itu biasa. Janin digigit biawak itu normal. Mayat bayi berulat itu biasa. Anak dara mati dibakar-cincang itu bisa. Ibu muda mati ditetak itu biasa. Semuanya biasa sahaja. Tiada apa yang luar biasa.

Semua orang sudah biasa. Dan rakyat pun sudah biasa. Rakyat pun sudah lama terima.Pemimipin lagi-lagi biasa.Malaysia pun sudah biasa saja."Oh.Malaysiaku tercinta.""Dikau bumi bertuah.."Hari ini mestilah berlalu pergi bersama sejarah. Esok lusa lain cerita. Apalah nasib oh Malaysiaku sayang. Tragedi sudah bertukar sejarah. Bala maksiat sudahpun meresap dalam adat. Budaya sudah lama menidakkan agama. Oh! agama Islam tercinta. Islam yang lebih mulia dari dikau.Oh! Malaysia tiada harga. Akar kejahatan dan perilaku sumbang sudah lama tertanam.

"Malaysia berdarah.."
"Malaysia rakyatmu parah.."
"Malaysia dijarah.."
"Malaysia dilapah-lapah.."
"Islam hanya sejarah..""Malaysia tak bertuah.."
"Malaysia negara terpokah"
"Malaysia rakyatnya punah.."
"Malaysia maruahmu musnah.."
"Malaysia jiwamu bernanah.."
"Malaysia hanya tinggal tanah.."
"Malaysia kecewa sudah.."

A/A/S:Kau Melayu atau Malaysial bukan 'point' nak ke syurga.

MANUSIAL @ MANUSIA: Situasi-Situasi

Situasi 1:

Di satu jalanraya, ada seorang pakcik yang "cool" berjubah, berjanggut dan bercelak di bibir matanya.Pakcik itu sempoi dok tunggu lampu hijau "trafic light" menyala. Mulutnya terkumat-kamit-berzikir barangkali. Hebat sungguh pakcik itu beramal. Dia bersama motosikalnya rilek "stay" belakang sebuah kereta 'amoi'.

Tiba-tiba, lampu hijau menyala. Kereta-kereta yang dibaris hadapan bergerak terus. Tapi, 'si amoi' masih tak meluncur bersama keretanya. Pakcik berjubah yang "cool" tadi mula menjeling 'si amoi'. 'Si amoi' rupanya sedang bergayut dalam telepon. Hati pakcik yang "cool" mula panas.

Pakcik: Celaka punya cina..! Dok bergayut sakan pula.
Pengguna jalan raya lain: Woi..! buta ka? Tak nampak hijau ka.?

Lima belas saat kemudian barulah 'si amoi' bergerak tanda faham. Muka pakcik berjubah-celak masih merah. Marah tahap raksaksa agaknya. Mood zikir pakcik itu habis kacau. Dan pakcik itu terus pergi bersama motosikalnya ke destinasi bersama hati yang panas.

Tema & Persoalan-

Sedang syok duk berzikir atau mengingat Allah s.w.t, tiba-tiba hati pakcik yang "cool" dikacau oleh situasi yang agak menggila. Hilang habis sabar pakcik yang berjubah. Kenapa jadi begitu wahai pakcik? Atas motosikal dan dijalanraya sambil berzikir-hebat betul amalan pakcik. Tapi sayang, seribu kali sayang pakcik, kenapa pakcik duk selamba 'sound':

"Celaka punya cina..!"

Sedang sempoi duk cuci hati yakni berzikir tiba-tiba pakcik yang amal sunnah ini bertukar menjadi ganas. Hati terus jadi panas.Mana pergi separuh iman pakcik? Elemen sabar terus dibakar oleh nafsu yang ganas. Lidah yang elok duk berzikir selamba duk 'sound' ayat kurang enak.Pakcik dari dalam situasi itu dari luarannya sudah dahsyat amal sunnah. Berjubah-berjanggut-bercelak memang 'cool & steady'.

Tapi, sayangnya hati pakcik mudah terbakar. Macam api kecil yang disimbah petrol. Cepat betol refleksnya.Mana pergi kesan-kesan 'kemanisan' berzikir di atas motosikal sambil menunggu lampu hijau 'trafic light' di jalanraya pada diri pakcik tersebut?. Apa guna pakcik duk sarung jubah-simpan janggut-sapu celak itu? Di mana silapnya wahai pakcik?.Kata ustaz, Nabi Muhammad s.a.w diturunkan untuk sempurnakan akhlak manusia.

Tapi pakcik itu duk pakai jubah,celak dan simpan janggut tak jadi masalah. Soalnya, akhlak macam musang tetapi perasan ada iman. Ustaz kata Nabi Muhammad s.a.w tak paksa manusia dok gila pakai jubah-celak dan simpan janggut. Tapi, Nabi s.a.w suruh dan bertegas supaya manusia berakhlak bagus.Apa guna berjubah,bercelak dan berjanggut tetapi akhlak macam firaun.

Mungkin dari jauh nampak eloklah juga. Ada jugaklah nampak syiar Islam dan sunnah Nabi s.a.w diamalkan. Tapi, kalau dengan sempurnanya aksesori luar sahaja tapi "inner component" dah 'condemn' tak ada guna jugak. Jadi, moralnya barangkali janganlah menjadi umat Nabi s.a.w yang berhati musang sambil menyamar dengan pakaian Nabi s.a.w.


Situasi 2:

Si Mamat (bukan nama sebenar) sedang sempoi duk berbaris di mesin ATM. Gaji bulan ini baru masuk agaknya. Mamat berdiri empat dari hadapan barisan.Terdapat tujuh orang yang sedang berbaris ketika itu untuk 'cucuk duit' masing-masing. Seorang nenek tua pula mengambil alih giliran 'mencucuk duit'. Tangan kiri dan kanan nenek tua terketar-ketar.

Sekitar tiga puluh enam saat masa diambil oleh nenek tua untuk 'mencucuk kad bank' ke dalam 'tempat cucuk kad'. Mamat, seorang 'broder otai' dan seorang 'awek' menjeling tajam kearah nenek tua itu. Ketiga-tiga mereka geram semacam-seolah-olah mahu dicincang saja nenek tua itu. Lebih kurang dua puluh lima saat diambil oleh nenek untuk menekan nombor pin beliau. Mungkin mata nenek tua sudah rabun sebaya dengan umurnya.Mungkin saja.

Masa terus berjalan. Ketiga-tiga makhluk tuhan yang berbaris di belakang nenek terus disimbah oleh api ketidaksabaran yang membara.

"Lembap betol orang tua nih", 'broder otai mula mencemuh geram.
"Berapa juta mau cucuk orang tua ni..?, awek sempoi berbisik.
"Hoi..! tengok orang belakang la mangkuk..!, Si Mamat selamba 'sound'.

Nenek tua mula gelabah. Akhirnya nenek tua dengan muka bersalah cepat-cepat mempercepatkan langkahnya yang sememangnya tidak secepat 'beruk tiga ekor' itu. Wang beberapa keping disumbat dan digumpal ke dalam colinya. Nenek tua lantas berlalu pergi tanpa menoleh. Si Mamat, 'broder otai' dan awek kembali lega.

Giliran 'mencucuk duit' mula diteruskan semula dengan kadar yang normal. Api ketidaksabaran mula reda dan malap. Semua pengguna mesin ATM kembali bahagia menggunakan servis itu.

Tema & Persoalan.

Si Mamat sudah pasti satu ikon kurang ajar yang tegar melalui situasi tersebut. Inilah gambaran realiti akhlak manusia biasa yang hidup di Malaysia. Adakah sebegitu perangai makhluk bernama 'manusia'?. Apa punca yang sebabkan seorang budak mentah itu berani dan tanpa segan 'menyound' seorang nenek tua. Nenek tua yang barangkali sebaya umur dengan neneknya sendiri.

Adakah si Mamat berperilaku sedemikian disebabkan oleh hatinya yang busuk dan berbatu. Mungkin. Ya, mestilah sebab Mamat punya hati yang keras dan 'mati'. Tetapi jika digunakan teknik 'bandingan watak',yakni watak 'pakcik' pada situasi 1 dengan Mamat di situasi 2 maka Mamat pastilah lagi "cool". Tak gitu?.

Ya, pasti Mamat lagi "cool" atau sempoi. Hal ini demikian kerana, pakcik yang perasan wali itu sedang cuci hati tapi bertukar menjadi seganas 'incredibile hulk'. Tapi, Mamat memanglah pemuda jalanan yang sempoi. Mungkin saja seorang Mat Rempit, mungkin penagih dadih, penyedut gam atau penghisap ais.

Itulah rasionalnya. Mamat mungkin saja tak mengerti bab cuci-cuci hati melalui zikir ni. Tak sehebat pakcik yang amal sunnah itu. Walhal, pakcik berjubah lagi maut punya duk 'sound' umat Nabi s.a.w yang juga saudaranya. Mamat-memang 'cool' & 'rudeboy'. Tapi, pakcik layak dapat pangkat "the old timer of rude oldman".

A/A/S:"Lu pikir la sediri pakcik'

MANUSIAL @ MANUSIA-Merujuk kepada Beruk

Apa beza manusia dengan beruk. Beruk tak pandai mengumpat. Beruk tak boleh menghina beruk lain. Beruk tak reti kutuk beruk lain.Beruk mustahil boleh sakitkan hati beruk lain menggunakan lidah. Sah-sahlah belum ada beruk yang pergi ke sekolah. Mana ada beruk yang belajar etika dan adab bergaul dalam masyarakat. Semua itu betul kerana Allah s.w.t yang 'create' beruk itu begitu rupa. Beruk tak boleh bercakap sebenarnya.

Tapi, apakah beruk tak berkomunikasi dengan beruk-beruk yang lain. Adakah beruk tidak bertutur menggunakan bahasa beruk dengan adik-beradik beruk dan kaum kerabatnya. Mungkin ya, mungkin tidak. Tuhan lagi tahu.

Kalaupun beruk itu ada bertutur seperti manusia dan kamu-kamu semua adakah beruk itu pandai dan gemar menyakitkan hati dengan menggunakan sepatah dua tiga perkataan sahaja. Manusia memang hebat. Dengan dua tiga patah kata pun dapat masuk neraka.

"Lidah tak bertulang bro!": kata orang.

Ya, beruk yang kita kenal hari ini adalah beruk yang tak pandai sakitkan hati makhluk lain menggunakan lidahnya. Ironinya, manusia yang makan nasi tapi beruk makan pisang atau sampah yang dibuang-manusia lagi teruk perilakunya.Beruk tak pergi sekolah tapi manusia berpuluh tahun ulang-alik ke sekolah tapi manusia lagi hudoh sikapnya dari beruk. Beruk tak mengaji Quran dan manusia 'terer' mengaji Quran tapi manusia pula yang jadi teruk dari beruk.

Tak peliklah jika empat puluh tahun lagi orang akan 'kompius' nak bezakan antara manusia dengan beruk.
Contoh:
"Orang ka beruk tu mama": Si anak.
"Itu macam babun Mama tengok": Mama.
"Eh, itu kambinglah mama": Sang papa.
"Mama..tengok tu lembu rupanya": Si anak.

Mungkin 'dialog' itu satu realiti atau fantasi yang tak punya erti.Tapi, siapa tahu. Tentulah Allah s.w.t yang tahu. Itulah gambaran secara kasar. Apakah kelihatan mutakhir ini manusia itu lebih 'terer' dari beruk. Beruk memang pandai panjat pokok. Beruk sangat taat kepada tuannya. Belum pernah dilaporkan oleh mana-mana akhbar di Malaysia khususnya tentang kes tuan beruk digigit beruk. Dan kalau adapun amatlah jarang. Berapa banyak pula kes manusia yang terajang-tendang-tampar ibu bapa sendiri? Siapa berani jawab-tentulah aku dan kamu semua tahu jawapannya.

Belum pernah dilaporkan tentang kes beruk merogol isteri tuan punya beruk. Tapi, berapa banyak kes bapa,abang,pakcik,atuk yang hilang aqal menodai darah daging sendiri? Kamu semua tolong jawab. Belum pernah dilaporkan ada beruk yang meragut buah pisang dari tangan atau bakul-bakul manusia. Mungkin beruk tak belajar cara hendak meragut. Beruk tentu sahaja boleh belajar melalui manusia seperti kamu dan aku.

Tapi, berapa ribu-juta kes manusia yang pergi sekolah (kononnya belajar) yang ganas meragut manusia lain di jalanan. Tak dapat apa yang disentap dibunuhnya manusia lain itu sampai mati demi mengecapi hasil ragut. Beruk sudah mesti "terkejut beruk" jika terlihat aksi ragut manusia seperti aku dan kamu semua di jalanan. Apakah beruk itu sebodoh manusia?

Atau manusia yang lebih bodoh dari beruk. (Fitrahnya manusia lagi mulia-cerdik). Hakikat tentang manusia hari ini telah memadam fitrah manusia itu sendiri sebagai makhluk yang paling mulia. Beruntungnya beruk kerana tak payah dihisab di padang Mahsyar nanti. Tak macam aku dan kamu semua serta manusia lain yang wajib dihisab. Tak terkecuali walau seorang pun.

"Untung jadi beruk." (Jangan gunakan ayat ini ketika mengeluh):Hiasan semata-mata

Kalau bercakap bab beruk ini memang tak cukup masa. Sampai beruk semua dah pupus pun tak habis. Manusia hari ini lebih teruk dari beruk kerana beberapa punca. Beruk memang sayangkan anak mereka.Juga tahu bagaimana menunujukkan rasa sayang itu kepada 'cahaya mata' mereka. Walaupun mereka seekor beruk. Dan pantang jika ada tangan-tangan yang gatal cuba mengusik anak mereka. Ini sifat beruk yang Tuhan berikan. Hebat bukan?.

Jika ada sebarang ancaman atau bahaya yang mendekati anak mereka (anak beruk) sudah pasti si ibu atau bapa beruk akan risau. Akan riuh rendahlah seluruh belantara dan hutan dengan suara kerisauan beruk-beruk disebabkan ancaman yang menimpa anak mereka. Ini sifat beruk yang unik. Malangnya, manusia seperti kamu semua dan aku langsung kecundang jikau hendak dibandingkan tahap keprihatinan dan sifat kasih sayang terhadap anak sendiri. Beruk memang 'terer' jaga anak.

Hari ini berapa orang ibu bapa dari jenis manusia yang tahu menjaga anak mereka? Kamu semua berani jawab?. Jika ada budak jantan datang rumah ambil anak dara mereka buat tidur,buat aksi ringan-ringan dengan anak mereka, haram mereka tak kisah. Ini sikap ibu bapa dari jenis 'manusial'. Bukan jenis manusia(pembetulan). Beruk yang tak pergi sekolah pun tahu jaga anak. Masalahnya, 'manusial' ini langsung buta dan tuli dalah hal-hal menjaga anak sendiri. Tak malu kepada beruk kah? Hairan.

Dan jika ada budak jantan yang datang ambil anak dara mereka, jarang sekali terdengar riuh rendah ibu bapa lain yang sekampung menunjukkan tanda risau dan prihatin. Beruk lagi tahu jaga anak mereka. Yang teruknya, ibu bapa dari jenis 'manusial' ini 'selamba beruk' saja tengok budak jantan 'pakai' anak dara mereka. Memang dasar 'manusia beruk'. Beruk pun malu nak mengaku bahawa manusia yang bodohnya lebih dari beruk. Entahlah istilah apa yag sesuai diberi kepada 'manusial' yang tak reti jaga anak ini.

Manusia tak reti jaga anak:
1- Manusia Beruk
2- Manusia Boruk (sebut ikut slang Nogori)
3- Manusia Buruk
4- Manusia Terberuk (Kau pilihlah sendiri)

Beruk tak pergi sekolah pun padahal. Ini spesis manusia yang bertahun-tahun mengaji sekolah dan berlagak dah jadi manusia tapi jahil langsung tentang hal-hal menjaga anak sendiri. Kau tewas dengan beruk wahai 'manusial'.Sekali lagi beruk berada diatas daripada dari manusia. Ibu bapa dari jenis 'manusial' hari ini memang sudah hilang identiti sebagai makhluk yang ada aqal.

"Woi..! Aqai ada ka??"

A/A/S: Jadilah manusia yang hebat dari beruk.