Friday, October 9, 2009

Ada Cerita Aib Di Masjid-Angkara Siapa?

Lepas detik subuh kadar suasana alam tenang. Di masjid ada suara lantang berdengung-dengang. Berceramahkah?. Berkhutbahkah?. Entah. Tapi suara itu penuh lunak dan rasa yaqin yang kuat. Begitu petah berbicara. Hati tergerak mau tatap sang pemilik suara lantang. Kaki yang dipinjamkan perlahan-lahan diatur menghala ke tangga masjid.Angin, pokok-pokok dan tasik memerhati diri. Jalan sunyi dan lengang.

Suara lantang tadi makin deras dilontar. Hati rasa tak sabar lagi. Siapa gerangan? Butir-butir kandungan yang dilontar si suara lantang ada singgah di telinga. Hampa, isinya kabur. Tidak jelas. Kaki yang dipinjamkan akhirnya hinggap di halaman masjid. Langkah disusun meluru ke hadapan sang suara lantang. Utazkah?:hati menyoal. Punggung diletak sopan. Barulah jelas didengar isi-isi butiran kata si suara lantang. Sudah agak tua rupanya sang permbicara itu. Berserban mungkin dan berjanggut itu pasti. Ya, itu janggut. Sungguh yaqin terlihat gayanya. Banyak isu disentuh.

Hati terus fokus mau dengar nasihat.
Tiba-tiba.....

"Kita ni bukan buat ibadat, tapi adat ja semua,Doa pun adat ja, sujud-solat pun adat ja...ramai antara kita ni duk macam tu la..adat ja.." (Sang pembicara:2009)

Tiba-tiba...Telinga menerima gelombang yang sukar ditafsir oleh hati. Apakah sang pembicara itu Ustaz? Lidah kelu-hati menyoal bertalu. Wah!. Ini gaya menghentam rasanya.Diri sabar mendengar kata-kata yang makin laju dilontar. Jemaah lain pun sama.Hormat pada sang pembicara. Ya, kerna diri mau kan nasihat. Itu niat bertandang ke masjid.

"Nu, tengok di Palestin, Checnya, Pattani, apa jadi?Imam dok doa juga lepas solat. Tapi duk kena bunuh juga.Ni la punca. Doa pun macam-macam gaya.Ada yang boh tangan di hidung.Ada yang boh tangan di dagu, Ada yang boh tangan di saku..Saya tak boleh la kata ini sebabnya.Tapi macam tu la..kita ni duk tak reti macam tu la...."(Ibid:2009)

Ragu-keliru dan haru. Itu Ustazkah? Ya,pastinya sang pembicara berniat murni. Memang bagus gayanya. Tapi.Rasa ragu dan mual mula membelit diri. Terasa punggung mau diangkat pergi. Diri menyangka ada nasihat berbaur agama. Rupanya kecewa yang disapa. Ustazkah itu?. Kenapa begitu gayanya. Allah saja yang tahu.

Ya. Apa motif para jemaah umum disindir sedemikian. Sang pembicara ada niat yang besar pastinya. Ya, niat mau lihat para jemaah dan umat sempurna dalam ibadat. Tapi, rasional atau tidak? Sudah datang ke masjid mau dimalukan juga. Si suara lantang tegar dengan bicara gaya menegurnya. Tapi, diri melihat dari skop lain. Perlukah tiap-tiap hari para jemaah disindir-dimalukan? Apa natijahnya yang mungkin timbul.

Lagi sekali:Allah saja yang tahu. Mungkin saja, ada hati yang merajuk membawa diri.Pergi ke masjid lain atau saja terus tidur tanpa perlu ingat masjid lagi. Mungkin saja. Apakah termaktub dalam Enakmen Jenayah Syariah 1995 perbuatan menegur dengan cara yang sopan jadi satu kesalahan? Apakah reaksi si Ah Chong dan Siva jikalau mereka terdengar bait-bait sindiran dari dalam masjid. Ya, apakah reaksi mereka? Mungkinkah begini:?

"Ayya!, itu olang banyak bising oo.malah-malah selalu": Ah Chong
"Amma,Appa!, itu orang tak da lain kerja ka, marah saja tau": Siva

Bersambung semula.Ustazkah itu?. Ya, berjanggut elok sekali. Berserban apatah lagi-molek berkali-kali. Hampa. Kerana sang pembicara guna teknik hentam kromo ala-ala pendebat. Ya, apakah salah jika si suara lantang menegur dengan gaya yang mulus?Diri fikir mungkin itu lebih baik. Ya, sangat baik maksudnya. Yang sudah datang ke masjid masih lagi ditikam + dihentam. Apa si suara lantang tidak faham bahawa sukar sekali anak-anak Adam di era ini mau menjenguk masjid. Alangkah bagus kiranya, sang pembicara memberikan nasihat berorientasikan SUNNAH BAGINDA S.A.W. Hampa lagi.

Tiada satu pun kata-isi bicara si suara lantang yang seronok didengar. Jarum terus bergerak.Tik..tak..tik..tak(kononnya). Tiba-tiba...."Saya fikir masa pun dah cukup.Saya mintak maaflahkalau ada yang terasa, kalau ada yang terkasar...Apa yang baik itu datang dari Allah..yang buruk tudari saya sendiri.....(Ibid:2009)

Ya, Sang pembicara menamatkan majlis. Seolah-olah angin, dinding dan jemaah tersenyum lega. Ya, lega kerana hentaman dan tikaman lidah sudah lenyap. Hati kembali rileks. Tiada lagi soalan: Ustazkah itu?. Tragedi selepas subuh itu dibiarkan berlalu pergi.Sang pembicara pun menuju pergi. Masing-masing membawa diri.

A/A/S: Ikut Suka Kau Lah Ustaz!

No comments: