
Lantas mau terkam terus. Perempuan itu katanya punyai nafsu sembilan sejumlah bilangan. Aduh. Pantas sebegini ganas!. Dikatakan lagi bahwa perempuan itu “mood” atau “temperature” mereka tidak mungkin stabil terus. Ada tika “mood “ mereka agak bahaya lantas tidak bisa ditegur-usik-cuit. Apa perempuan itu tidak punya rasa ‘rileks’ atau ‘cool’. Susah, andai begini sifatnya perempuan itu. Bisa saja ringan tangannya mahu lempang orang. Bisa saja ringan lidahnya mau caci-hina orang. Ini mungkin cocok bagi yang kaki jalanan-yang tidak ngerti apa itu akhlak atau tata cara perilaku manusiawi.
Tapi, tertanya-tanya sama ada perempuan itu kenapa mudah saja mau respon lantang tanpa tidak punya waktu untuk berfikir dulu. Berfikir dulu sebelum terjah terus. Berfikir dulu sebelum mau terkam terus. Ya, inikan bulan Ramadhan yang Indah (ditulis semasa bulan puasa). Apakah nafsu yang sembilan jumlahnya (kata orang) itu tidak bisa diberkas lagi?, tidak bisa dijinakkan lagi? Ini hal yang cerewet sifatnya-mau punya jawaban yang tepat sebelum dijawab. Kata cikgu, perempuan itu lemah gemalai gaya lakunya. Indah suci tutur katanya dan sopan benar gerak-gerinya. Aduh-sempurna sekali produk Hawa ini:kata hati.
Tapi, itu kata cikgu. Cikgu pun sudah lama mati. Dan itu kata-kata yang terbitnya waktu dulu. Dan hari ini kalendar waktunya sudah jauh baru.Bukan lagi hal-hal dulu-dulu yang menjadi isu. Perempuan!. Ya, orang kata: perempuan itu pemalu, penyantun lagi baik peri lakunya. Mungkin sekali sifat-sifat sempurna ini bisa bantui perempuan jadi perempuan yang sabar-perempuan yang fikirin dulu sebelum terkam terus,sebelum terjah terus. Ah, tapi cikgu tidak bilang bahwa perempuan itu ganas-rakus dan punyai nafsu sembilan jumlahnya. Tapi, cikgu hidup waktu dulu. Perempuan yang versi baru ini hidup di era terkini. Nyata berbeza barangkali. Berbeza maksudnya tingkah tanduk perempuan-perempuan yakni di zaman dulu (zaman cikgu) dengan zaman ini (hari ini).
Ramadhan yang Indah.Ya, bulan yang nafsu penghuni taman Ramadhan ini sudah bisa diikat-tambat sampai ketat.(Pastinya bukan semua). Jadi, disini sudah punyai dua faktor besar agaknya. Pertama-Ramadhan yang Indah bisa tundukkan nafsu yang sembilan.Kedua-perempuan-perempuan itu gayanya sudah pasti lemah-lembut, penyopan, penyantun,penyayang (mungkinkah?). Kelihatan dua-dua faktor besar ini bisa saja mampu bantui perempuan agar lebih ‘cool’ atau ‘rileks’ terus sampai ajalnya.
Nah!. Malangnya, perempuan itu tetap sama saja cara dan gayanya. Adakah ini berpunca daripada virus bawaan bebabi itu? Oh!, mungkin tidak. Jadi, harus kenapa perempuan-perempuan itu terus ganas-gelojoh dan rakus peri bahasanya.Tuhan saja yang Tahu. Tuhan saja yang Tahu-cikgu tidak tahu. Ini pasti sekali.
Adakah ini mungkin gejala bawaan genetik dari darah-keturunan nenek moyang mereka? Jauh sekali rasanya. Maka, apa punca yang cetuskan sindrom tidak mau ‘cool’ & ‘rileks’ ini?
Tuhan sudah pasti punyai jawabannya. Cikgu dan aku pasti tak ketahuan. Oh! Perempuan-perempuan yang punyai gelaran penyopan, penyantun, penyayang (betulkah?) seringkali dilihat elok saja. Ya!, Ramadhan ini ibarat ‘washing machine’ yang ghaib sifatnya. Ya, kerna hati-hati bisa dibasuh terus sampai cuci di bulan Rahmat ini-(kata ustaz) Nafsu jahat mungkin senang untuk dipijak.Mungkin! Namun, malang agaknya kerna perempuan-perempuan itu masih juga bernafsu ganas dan pantas.(Dua belas juta persoalan) Entah, cikgu bilang perempuan itu elok rupanya, lembut gemalai gerak lakunya dan sopan suci tuturnya. Aduh! Mana bisa cikgu berbohong. Itukan cikgu. Nah! Masalah ini makin membesar ketumbuhannya.
Tapi, bukankah sudah terbiasa melihat perempuan-perempuan kasar perilakunya. Ah,biarkan soalan ini tidak berjawab kerna sukar rasanya mau dicari jawabannya. Mungkin saja perempuan sendiri yang menjawabnya. Mungkinkah terjawab? Hanya Tuhan yang ketahuan………………
A/A/S: Lantak kau lah perempuan. Kubur masing-masing.


No comments:
Post a Comment